BREAKING Coverage Trip to Krakatoa Ends Mysteriously, 5 Journalists Lost Contact • SMAN 1 Panukanukan Teacher Becomes Suspect in Alleged Molestation of Students, Now Detained at Subang Police Headquarters • Not Just Solar, South Sulawesi Residents Face Crisis of Electricity, Clean Water up to 3 Kg LPG • TCL P80 Pro Officially Brings NxtPaper OLED Screen, Cell Phone That Can Be Transformed into an E-Reader • Antam Gold Price Today Wednesday 9 September 2026 Stable at IDR 2,627 million per gram BREAKING Coverage Trip to Krakatoa Ends Mysteriously, 5 Journalists Lost Contact • SMAN 1 Panukanukan Teacher Becomes Suspect in Alleged Molestation of Students, Now Detained at Subang Police Headquarters • Not Just Solar, South Sulawesi Residents Face Crisis of Electricity, Clean Water up to 3 Kg LPG • TCL P80 Pro Officially Brings NxtPaper OLED Screen, Cell Phone That Can Be Transformed into an E-Reader • Antam Gold Price Today Wednesday 9 September 2026 Stable at IDR 2,627 million per gram
Return

Dedi Mulyadi Prioritizes Tajug Development in West Java, Focuses on Citizen Spirituality

🇺🇸 English — United States EN
Dedi Mulyadi Prioritizes Tajug Development in West Java, Focuses on Citizen Spirituality
ZONAHARIAN.COM - Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana memprioritaskan pembangunan tajug atau masjid berukuran kecil di berbagai lingkungan masyarakat. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat kehidupan spiritual warga sekaligus menghidupkan kembali fungsi rumah ibadah sebagai pusat kegiatan keagamaan sehari-hari.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyampaikan hal tersebut saat menghadiri acara Peringatan Hari Besar Islam Muharram 1448 Hijriah bertema "Menguatkan Cinta Islam dan Islam Cinta" di Masjid Raya Al-Jabbar, Selasa (9/6/2026).

Pria yang akrab disapa KDM itu mengatakan, Jawa Barat saat ini sudah memiliki banyak masjid megah. Karena itu, pemerintah akan lebih fokus membangun tajug yang dekat dengan kehidupan masyarakat dan dapat dimanfaatkan setiap saat.

"Kami ingin membangun masjid-masjid kecil di lingkungan masyarakat yang membutuhkannya dalam setiap waktu. Kan kalau masjid-masjid yang megah sudah banyak di Jawa Barat," ujar KDM.

Menurutnya, pengembangan tajug akan dilakukan secara bertahap dan terintegrasi dengan dukungan berbagai pihak. Keberadaan tajug yang sudah ada di tengah masyarakat juga akan diperkuat tanpa harus membentuk struktur pengelolaan baru.

"Kami ingin membangun masjid yang ada jamaahnya, tempat anak-anak ngaji, tempat ibadah rakyat di situ," katanya.

KDM menilai saat ini terjadi pergeseran fungsi sebagian masjid yang semestinya menjadi ruang ibadah dan refleksi spiritual. Ia menyoroti fenomena masjid yang lebih banyak dikunjungi sebagai destinasi wisata dibandingkan tempat mendekatkan diri kepada Tuhan.

"Kalau masjid sarana rekreasi bukan sarana spiritualitas, maka masjid hanya akan menjadi tempat selfie, bukan tempat tafakur," tegasnya.

Menurut KDM, esensi ibadah tidak terletak pada kemegahan bangunan, melainkan pada kedekatan seorang hamba dengan Sang Pencipta. Ia menegaskan bahwa tafakur dapat dilakukan di mana saja selama hati mampu menghadirkan ketenangan dan keikhlasan.

"Bertafakur bisa dilakukan di mana saja. Di kamar tidur, surau kecil, bawah pohon, tepi sawah, tepi danau, pinggir gunung, hingga tepi samudra. Tempat tidak memiliki makna, yang paling utama adalah keheningan jiwa untuk mampu menghadirkan Tuhan dalam relung jiwa," pungkasnya.

Kebijakan pembangunan tajug ini diharapkan dapat memperkuat pendidikan keagamaan di lingkungan masyarakat, menjadi tempat anak-anak belajar mengaji, serta menghidupkan kembali fungsi rumah ibadah sebagai pusat pembinaan spiritual warga Jawa Barat.

Dikutpi dari Tim Humas Jabar

Comment (0)

No comments yet. Be the first!

Leave a Comment

Link copied to clipboard!